Perihal yang masih sama

Tadi malam 

Dibawah temaran lampu yang degubnya redup lalu terang, 

Aku berhenti sejenak untuk menitip sebuah rindu. 

Terus begitu memang.

Dan tepat pada menit yang sudah kuanggap cukup baik, aku menyepakatinya.

Semoga sampai 

Lalu, kamu lekas pulang.

-udara

Ini akan terdengar sedikit memalukan. 

Aku ingin meminta pada tuhan untuk sekali saja mempertemukan aku dengannya lagi. Maka selanjutnya aku berjanji akan membuat kisah yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Jabaran Rasa

Nantinya, semoga kau membaca.

Puluhan tulisan ini terangkai rapi dengan irama halus air mata, juga tercipta dari pikiranku sejak kehilanganmu malam itu. Membuatku mengerti jika aku bukan lagi nama yang kau taruh di masa akhir pencarianmu. Aku sudah rela.

Dan sekarang,

Aku menjadi seseorang yang pergi dengan sempurna dari sebagian cerita kehidupanmu. Karena kita bukan lagi seperti sepasang pertanyaan bersama jawaban. Bukan lagi gabungan dua harap yang nantinya akan menjadi kepastian. Ini bukan lagi kita. Terimakasih kepada kamu yang meninggalkanku dengan secerah kebahagiaan karena berhasil melepasku demi bebas bersama perempuanmu. 

Semoga hebatku dalam setia kepadamu bisa kau dapatkan dari perempuanmu. Jika kau tidak dapat menemukannya, jangan kembali padaku karena aku enggan saling bertegur sapa denganmu lagi. Jadi tetaplah jauh disana, dan aku disini selalu mendekapmu dengan kata-kata. Selamat berbahagia.

-Udara


Sajak Sepi

Aku kembali diterkam malam, dibisukan sepi-sepi dan dibius dengan rindu yang memanas pada telapak tangan. Rayuan manisnya sang malam sempurna sekali membungkukkanku, meluruhkan tubuhku pada jejeran huruf tak beraturan. Memintaku untuk segera merangkai. Rupanya sepi sedang meminta datangnya ini di abadikan pada tulisan. Mulanya baik-baik saja, namun lambat laun pikiranku sampai pada bayangan hitam pekat masa lalu. Semakin keras akal ku berlarian, mencabik untuk mulai lagi mencari sepenggal alasan kepergianmu yang ku pikir bersumber dalam diri ku. 

Lalu sepi menamparku keras-keras. Menyadarkan bahwa cinta tak seharusnya aku kenang jika menyakiti. Ia melepas namun aku mengenang. Itu karena masih ku ingat saat dibawanya melejit tinggi, jadi ketika aku jatuh dan tak diliriknya lagi. Aku lemah. Seperti ini.

-Udara

Kembalikan 

Banyak sekali yang perlu dikembalikan saat usiaku beranjak dewasa. Banyak sekali yang perlu ku sesali untuk kembali pada masa aku belum bertumbuh. Banyak sekali tawa yang terkumpul dan hampir banyak juga bagian tawa yang hilang.

Aku rindu..

Pada gelak canda tawa antara aku, ibuku, dan ayahku. Tiga orang yang tidak pernah berhenti berbicara di bawah atap ini. Pada Minggu yang mengumpulkan aku dan mereka, pada suatu malam saat aku tidur dipelukan keduanya. Ketahuilah, aku masih seperti balita yang menginginkan digenggam oleh dua tangan orang yang kucintai. Ibu dan ayahku.

Namun apa yang bisa ku perbuat lagi? Setumpukan bata pembangun dinding itu semakin kokoh dan tinggi. Membatasi penglihatan ku pada satu sosok diantara keduanya, Ibu. Jeritan rindu terpendam sangat dalam pada dasar hati. Air mata berusaha keras ku sisihkan. Keadaan terus saja mendorongku menjadi gadis yang berpura-pura kuat, menjadi gadis yang menahan mata untuk terus terbuka lebar dan memaksakan senyum terindah di segala tempat.

Ibu, jika kau membaca akhir dari tulisan ini air mataku sudah sangat perih terkena pipi. Karena diam-diam aku menghujani wajahku dengan air mata setiap malam mulai datang, sepi mulai hinggap. Wajahmu selalu aku bayangkan tiap kali aku hampir terlelap. Aku tersekat pada milyaran harapan yang tak kunjung bebas.

Ibu, aku berada di pojok dinding. Menanti ujung jemarimu menyentuhku lalu ku peluk erat tubuh malaikat yang ratusan jam aku rindukan❤

Udara